BIO-LINK

Icon

Biotechnology

Di Pintu Gerbang Sebuah Kuil

Filed under: Uncategorized

Kekasih

Pandangan Pertama. ITULAH SAAT yang memisahkan aroma kehidupan dari kesadarannya. Itulah percikan api pertama yang menyalakan wilayah-wilayah jiwa. Itulah nada magis pertama yang dipetik dawai-dawai perak hati manusia. Itulah saat sekilas yang menyampaikan pada telinga jiwa tentang risalah hari-hari yang telah berlalu dan mengungkapkan karya kesadaran yang dilakukan malam, menjadikan matanya jernih melihat kenikmatan di dunia dan menjadikan misteri-misteri keabadian di dunia ini hadir. Itulah benih yang ditaburkan Ishtar, dewi cinta, dari suatu tempat yang tinggi. Mata mereka menaburkan benih di dalam ladang hati, perasaan memeliharanya, dan jiwa membawanya kepada buah-buah. Pandangan pertama kekasih adalah seperti roh yang bergerak di permukaan air mengalir menuju surga dan bumi. Pandangan pertama dari sahabat kehidupan menggemakan kata-kata Tuhan, “Jadilah, maka terjadilah…”

Ciuman Pertama. ITULAH SESAPAN pertama dari cawan yang telah diisi oleh para dewa dari air mancur cinta. Itulah batas antara kebimbangan yang menghibur dan menyedihkan hati dengan takdir yang mengisinya dengan kebahagiaan. Itulah baris pembuka dari suatu puisi kehidupan spiritual, bab pertama dari suatu novel tentang manusia mati. Itulah tali yang menghubungkan pengasingan masa lalu dengan kejayaan masa depan. Ciuman pertama menyatukan keheningan perasaan-perasaan dengan nyanyian-nyanyiannya. Itulah satu kata yang diucapkan oleh empat bibir yang menyatukan hati sebagai singgasana, cinta sebagai raja, kesetiaan sebagai mahkota. Itulah sentuhan lembut yang mengungkapkan bagaimana jari-jemari angin mencumbui mulut bungan mawar, mempesonakan desah napas panjang kenikmatan dan rintihan manis nan lirih. Itulah permulaan getaran-getaran yang memisahkan kekasih dari dunia ruang dan matra dan membawa mereka kepada dunia wahyu dan impian-impian. Ia memadukan taman bunga berbentuk bintang-bintang dengan bunga buah delima, menyatukan dua aroma untuk melahirkan jiwa ketiga.

Perkawinan. SEKARANG, CINTA mulai menciptakan puisi dalam prosa kehidupan, untuk mencipta pikiran-pikiran masa lalu menjadi nyanyian pujian agar bersenandung siang hari dan bernyanyi pada malam hari. Sekarang, hasrat menyingkapkan kerudung keraguan dari kebingungan pada tahun-tahun yang telah berlalu. Dari rangkaian kesenangan, ia merajut kebahagiaan yang hanya bisa dilampaui dengan kebahagiaan jiwa ketika ia memeluk tuannya. Itulah dua pribadi kokoh yang berdiri berdampingan untuk mempertentangkan cinta mereka dengan kedengkian dari takdir yang lemah. Itulah perpaduan anggur kuning dengan anggur warna lembayung untuk menghasilkan paduan keemasan, warna cakrawala saat fajar merekah. Itulah pertentangan dua roh untuk pertentangan dan kesatuan dua jiwa dengan kesatuan. Ia adalah curahan hujan jernih dari langit murni ke dalam kesucian alam, membangkitkan kekuatan-kekuatan ladang yang penuh berkat.

Apabila pandangan pertama dari wajah sang kekasih adalah seperti benih yang ditaburkan oleh cinta di ladang hati manusia dan ciuman pertama dari dua bibir adalah seperti bunga pertama cabang kehidupan, maka perkawinan adalah buah pertama dari bunga pertama benih itu.

Filed under: Uncategorized

July 2017
S M T W T F S
« Dec    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Aku Cari di

BioTools

Books

Candidates

Company

Encounter JW

Indonesia

Islam

Kamus

Kandidat

Koran

Mine

Protein Modelling

Rice Database

Riset Disain

Rumah

Shopping

Their blogs

Univ. di Suwon Pinggiran

Universitas di Jinju

Universitas di Suwon

Wordpress